WERENG BATANG COKLAT (Nilaparvata lugens Stal)

Created on 21 April 2011 Written by Gun Gun Gunawan Category: Berita Utama
Published Date Hits: 4850
Print



Nama Umum      : Wereng Batang Coklat (WBC)wbc

Nama Ilmiah       : Nilaparvata lugens Stal

Tanaman Inang   : Padi dan Leersia hexandra kalamenta, bahasa Jawa : suket kolomento) yaitu 

   sejenis  rumput-rumputan

Daerah Sebaran : Indonesia, Australia, Bangladesh, Bhuthan, Burma (Myanmaar), Kamboja, Cina,

  Fiji, India, Jepang, Korea Utara dan Selatan, Laos, Malaysia, Nepal, Pakistan,

  Papua Nugini, Filipina, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

 

Ekobiologi

Siklus hidup WBC terdiri dari Telur – Nimfa – Imago/Dewasa (metamorfosis : paurometabola). Telur-telur diletakkan secara berkelompok seperti sisiran pisang didalam jaringan pelepah daun yang menempel pada batang. Bentuk telur seperti silinder agak melengkung. Pada awalnya telur berwarna transparan keputihan namun ketika akan menetas warnanya menjadi lebih gelap. Telur menetas dalam waktu sekitar 4-9 hari. Telur menetas menjadi nimfa dan mengalami lima kali pergantian kulit (instar) untuk menjadi dewasa. Rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan periode nimfa adalah 12,2 hari, yaitu 2,6 hari, 2,1 hari, 2,0 hari. 2,4 hari dan 3,1 hari berturut-turut untuk nimfa instar I, II, III, IV, dan V. Nimfa yang baru menetas berukuran <1 mm. Nimfa kecil berwarna putih dan semakin tua berubah menjadi kekuningan, coklat muda dan akhirnya menjadi coklat/coklat tua. WBC dewasa berwarna coklat dengan tubuh coklat kekuningan dan berukuran ± 3 mm. WBC dewasa dapat hidup sampai dengan 20 hari. WBC dewasa mempunyai dua tipe sayap (dimorfis) yaitu makroptera (bersayap panjang) dan brakiptera (bersayap pendek). WBC makroptera merupakan indikator populasi

pendatang dan emigrasi/pemencaran apabila populasi sudah padat atau tanaman sudah tua sehingga sumber makanan tidak tersedia lagi, sedangkan bentuk brakiptera merupakan populasi penetap yang biasanya menghasilkan keturunan dan merupakan penyebab terjadinya kerusakan tanaman. Apabila populasinya tinggi, kita dapat menemukan WBC pada bagian daun terutama WBC dewasa bersayap panjang. Pada kondisi tanaman yang sudah mengalami hopperburn atau tanaman padi sudah dilakukan pemanenan, WBC bermigrasi dan menyebar ke lahan pertanaman padi baru. WBC mampu beradaptasi terhadap pergantian varietas tanaman dengan membentuk biotipe ataupun koloni baru yang lebih resisten.

 

Kerusakan

WBC dapat menyerang tanaman padi pada semua tahap pertumbuhan tanaman (mulai dari persemaian sampai waktu panen). Nimfa dan WBC dewasa menyerang dengan cara menghisap cairan tanaman pada bagian pangkal padi. Gejala yang terlihat pada tanaman berupa kelayuan dan menguningnya daun, mulai dari daun tua kemudian meluas dengan cepat ke seluruh bagian tanaman, sehingga akhirnya tanaman menjadi mati. Dalam keadaan populasi tinggi dapat mengakibatkan matinya tanaman dalam satu hamparan atau dapat menyebabkan terjadinya puso. Gejala yang ditunjukkan yaitu tanaman padi menjadi kuning dan kering dengan cepat (berwarna kecoklatan seperti terbakar). Kondisi tersebut dikenal dengan istilah 'hopperburn'. WBC dapat merusak tanaman padi secara langsung yaitu dengan cara menghisap cairan sel tanaman, dan juga dapat menjadi vektor virus penyebab penyakit kerdil rumput (grassy stunt) tipe 1 dan 2 serta kerdil hampa (ragged stunt). Penjelasan mengenai penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa akan disampaikan pada bahasan yang berbeda.

 

Usaha Pengendalian

1. Penanaman varietas tahan

Penanaman varietas padi yang tahan terhadap WBC adalah penting untuk mencegah terjadinya ledakan hama. Perubahan gen oleh bahan kimia secara signifikan dapat meningkatkan atau menurunkan tingkat resistensi WBC pada padi. Beberapa insektisida kimia, misalnya imidakloprid, dapat mempengaruhi ekspresi gen tanaman padi dan dengan demikian meningkatkan kerentanan terhadap WBC. Dalam upaya untuk mengendalikan WBC lebih spesifik-spesies, peneliti mencoba untuk mengembangkan metode mematikan gen tertentu yang berpengaruh terhadap pencernaan, ketahanan dan metabolisme xenobiotik WBC. Banyak gen baru untuk fungsi-fungsi ini telah terdeteksi di jaringan dari usus BPH. Beberapa lektin tumbuhan adalah antifeedants untuk WBC dan jika benar formulasinya mungkin memiliki potensi untuk melindungi tanaman padi terhadap WBC.

 

2. Penanaman Serempak

Tanam serempak dilakukan untuk daerah/areal sekurang-kurangnya satu petak tersier atau satu wilayah kelompok tani dengan selisih waktu tanam 2 minggu atau selisih waktu panen empat minggu paling lama. Atau dengan kata lain varietas yang digunakan harus berumur seragam. Dengan cara ini dapat dicegah terjadinya tumpang tindih populasi antar generasi karena siklus hidup WBC dapat terputus pada saat pengolahan di antara dua periode tanam.

 

3. Pergiliran Tanaman

WBC hanya dapat hidup dengan baik pada tanaman padi. Jadi untuk memutuskan siklus hidupnya dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman, minimal menanam satu kali tanaman non-padi, atau dibiarkan bera sampai dua bulan setiap tahun.

 

4. Pengendalian Hayati

Sesungguhnya di lapangan terjadi pengendalian secara hayati yang dilakukan oleh musuh-musuh alami WBC. Diantara musuh alami tersebut yang paling efektif mengendalikan populasi WBC adalah laba-laba predator Lycosa pseudoannulata. Laba-laba ini dapat memangsa 10-12 ekor imago atau 15-20 ekor nimfa setiap hari. Predator lain yang tercatat sebagai musuh alami WBC adalah kepik Micrivelia douglasi dan Cyrtorhinus lividipennis, kumbang Paederus fuscipes, Ophionea nigrofasciata dan Micraspis. Selain pengendalian WBC dengan musuh alami diatas, saat ini sudah dikembangkan pula agensia hayati lain yang berasal dari kelompok jamur, diantaranya adalah Beauveria bassiana, Metharizium, dan Hirsutella citriformis.

 

5. Pengendalian Kimia

Pengendalian kimia dilakukan apabila cara-cara lain tidak mungkin lagi dan populasi WBC sudah berada diatas ambang ekonomi. Ambang ekonomi yang telah ditetapkan adalah rata-rata 10 ekor per rumpun untuk umur tanaman padi kurang dari 40 hst, atau rata-rata 20 ekor per rumpun untuk tanaman padi lebih dari 40 hst. Penggunaan pestisida diusahakan sedemikian rupa sehingga efektif, efesien dan aman bagi lingkungan. Pada varitas tahan tidak perlu digunakan insektisida kecuali kalau ketahanannya patah, sedangkan aplikasi insektisida pada varitas rentan harus didasarkan pada hasil pengamatan. Pengendalian WBC dengan menggunakan insektisida sintetik hasilnya efektif dan efisien, namun dalam prakteknya harus berpedoman pada prinsip 6 (enam) Tepat, yaitu : Tepat Jenis, Tepat Sasaran, Tepat Cara, Tepat Waktu, Tepat Konsentrasi/Dosis dan Tepat Lokasi.

 

Berikut ini adalah daftar insektisida yang diperbolehkan untuk mengendalikan hama WBC.

Bahan Aktif
Formulasi Terdaftar
Alfa Sipermetrin
Fastac 15 EC
Amitraz
Mitac 200 EC
Bisultap
Agripo 290 SL, Dinasty 400 SL
Bensultap
Bancol 4 G, Bancol 50 WP
Beta siflutrin
Buldok 25 EC, Raydock 28 EC
BPMC
Bassa 500 EC, Baycarb 500 EC, Benhur 500 EC, Bona 500 EC, Dharmabas 500 EC, Emcindo 500 EC, Erkabas 500 EC, Hopcin 460 EC, Indobas 500 EC, Ingrobassa 500 EC, Karbasin 500 EC, Kiltop 500 EC, Marudine 500 EC, Naga 500 EC, Pentacarb 500 EC, Rahwana 500 EC, Sanet 7 SP, Sidabas 500 EC, Tanicarb 485 EC, Tamabas 500 EC
Bahan Aktif
Formulasi Terdaftar
Buprofezin
Applaud 10 WP, Aplaud 100 EC, Applaud 400 F, Buprosida 100 EC, Gerbera 100 EC, Lauda 25 WP, Lugen 100 EC
Deltametrin
Biocis 25 EC
Dimehipo
Alphadine 450 SL, Bajaj 450 SL, Centadine 6 GR, Centadine 450 SL, Dipho 290 SL, Dipostar 400 SL, E-To 400 WSC, Foltus 400 SL, Hypolax 400 SL, Kempo 400 SL, Manuver 400 WSC, Montaf 400 SL, Poryza 400 WSC, Sandimas 400 SL, Sidatan 410 SL, Spartan 290 SL, Spontan 400 SL, Sponsor 450 SL, Taruna 400 SC, Vista 400 SL
Etiprol
Curbix 100 SC
Etofenproks
Trebon 95 EC, Samba 100 EC
Fipronil
Regent 80 WG
Imidakloprid
Abuki 50 SL, Agrovin 0,5 GR, Avidor 200 SL, Avidor 25 WP, Bima 10 WP, Confidor 200 SL, Confidor 5 WP Confidor 70 WG, Crista 25 WP, Dagger 200 SL, Imidor 50 SL, Klopindo 10 WP, Lanidor 200 SL, Lanidor 5 WP Neptune 25 WP, Panindo 10 WP, Rudor 5 WP, Starfidor 5 WP, Winder 25 WP, Winder 100 EC, Wingran 0,5 G,
Karbofuran
Centafur 3 GR, Furio 3 GR, Kresnadan 3 GR, Kumbokarno 3 G, Hidrofur 3GR, Primadan 3 GR, Primafur 3 GR, Sidafur 3 GR, Truper 3 GR
Karbosulfan
Marshal 5 G
MIPC
Mikarb 50 WP, Mipcinta 50 WP, Mipcindo 50 WP, Sidacin 50 WP, Tamacin 50 WP, Venop 60 WP
Metolkarb
Rexal 345 EC
Monosultap
Rage 90 SP, Sanming 400, WSC, Trisula 450 SL
Propoksur
Poksindo 200 EC
Tiametoksam
 

<By Sujiono, SP>